![]() |
Bima, Pena Warta NTB. Mengawali tahun 2026 dengan semangat perubahan, RSUD Sondosia menunjukkan komitmen kuat dalam menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat tata kelola organisasi berbasis kinerja. Melalui evaluasi menyeluruh tahun 2025, Direktur RSUD Sondosia, Dr. Firman, MPH, menegaskan bahwa setiap pekerjaan harus menghasilkan output nyata yang terukur dan berdampak langsung bagi pelayanan pasien.
Lonjakan kunjungan pasien, khususnya pasien anak sejak awal Januari 2026, menjadi sinyal awal bahwa kepercayaan masyarakat terhadap RSUD Sondosia terus meningkat. Kondisi ini mendorong manajemen rumah sakit bergerak cepat melakukan penyesuaian kapasitas tempat tidur perawatan anak. Upaya penambahan extra bed yang sebelumnya dilakukan dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan layanan.
“Ruang perawatan bedah memiliki kapasitas tempat tidur lebih dari 20, sementara rata-rata pasien bedah saat ini tidak sebanyak itu. Karena itu, kami memindahkan ruang perawatan anak ke ruangan dengan kapasitas tempat tidur yang lebih besar agar lebih banyak pasien anak yang dapat terlayani,” jelas Dr. Firman saat melakukan koordinasi penyesuaian ruangan perawatan bersama Kepala Seksi Pelayanan, Sabtu (3/1/2026).
Evaluasi Kinerja: Budaya Kerja Berbasis Output dan Data
Setelah finalisasi rincian Rencana Bisnis Anggaran (RBA) Tahun 2026 pada 5 Januari 2026, Pada Selasa (6/1/2026) RSUD Sondosia menggelar Evaluasi Kinerja Triwulan IV dan Evaluasi Tahunan 2025 yang berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai II Gedung Farmasi. Momentum ini menjadi refleksi penting bagi seluruh unit kerja dalam memperkuat budaya evaluasi berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Direktur RSUD Sondosia menekankan bahwa evaluasi bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan alat strategis untuk memastikan kontribusi nyata setiap individu dan unit terhadap organisasi.
“Kita harus mampu menunjukkan output dari pekerjaan yang kita lakukan. Dengan evaluasi rutin, kita tahu sejauh mana kontribusi kita bagi organisasi. Angka dan data capaian kinerja inilah yang menjadi dasar kita merencanakan langkah ke depan secara lebih tepat. Bukan hanya per tahun, tapi bagaimana kita bisa menjadi lebih baik dari bulan ke bulan, bahkan hari ke hari,” tegasnya.
Kinerja Pelayanan: Bertumbuh di Tengah Tantangan
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan dan tantangan, kinerja RSUD Sondosia secara umum mengalami peningkatan signifikan, baik dari sisi pelayanan, manfaat bagi masyarakat, maupun kinerja keuangan. Capaian ini menjadi modal penting dalam penyusunan RBA serta Rencana Strategis Lima Tahunan RSUD Sondosia ke depan.
Salah satu indikator paling menonjol terlihat pada layanan rawat inap. Dibandingkan tahun 2024, jumlah pasien rawat inap pada tahun 2025 melonjak 69 persen, dari 2.667 pasien menjadi 4.506 pasien. Demikian juga layanan IGD dan rawat jalan, juga meningkat signifikan. Angka ini mencerminkan meningkatnya akses dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit.
Selain itu, sejumlah capaian strategis turut mewarnai perjalanan RSUD Sondosia sepanjang 2025, di antaranya beroperasinya Bank Darah Rumah Sakit, pembukaan ruang perawatan bedah, serta penyediaan mandiri oksigen medis, yang semakin memperkuat kemandirian dan kesiapsiagaan layanan.
Kinerja manfaat: Penguatan SDM Spesialis, Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi fokus utama. Sepanjang tahun 2025, RSUD Sondosia berhasil menambah tujuh kategori dokter spesialis, yaitu Spesialis Penyakit Dalam, Mata, Jantung, Anak, Radiologi, Anestesi, dan Patologi Klinik. Kehadiran para dokter spesialis ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kemanfaatan rumah sakit bagi masyarakat.
Klinik Mata, misalnya, mencatat 2.263 kunjungan pasien sepanjang tahun 2025. Tren peningkatan serupa juga terjadi pada klinik Penyakit Dalam serta Kebidanan dan Kandungan, terkini pelayanan pasien anak bahkan sampai harus menyesuaikan ruangan perawatan untuk memembuka kemanfaatan buat masyarakat (pasien anak). Hal ini menunjukan bahwa layanan spesialistik semakin dibutuhkan dan dimanfaatkan masyarakat.
Desa Sanolo, Tambe, Rasabou, Rato adalah berturut-turut asal desa pasien RSUD Sondosia. Menurut wilayah kecamatan, Kecamatan Bolo menyumbang lebih 50% jumlah pasien yang berkunjung disusul oleh Kecamatan Madapangga, Woha, Donggo dan Soromandi. Selanjutnya pasien RSUD Sondosia juga berasal dari kecamatan lain seperti Lambu, Ambalawi, Sape, Tambora, Sanggar, Parado, Monta, Manggelewa, Dompu, Kota Bima dan Luar NTB.
Melangkah Mantap ke Masa Depan
Dengan fondasi kinerja termasuk kinerja keuangan yang terus menguat RSUD Sondosia menatap tahun 2026 dengan penuh optimisme. Evaluasi, data, dan keberanian mengambil keputusan strategis menjadi kunci dalam memaksimalkan upaya rumah sakit ini terus tumbuh sebagai institusi pelayanan kesehatan yang responsif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Capaian ini bukan akhir, tetapi awal untuk melangkah lebih jauh. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus belajar, berbenah, dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tutup direktur.

COMMENTS